Lewati ke konten
TANI MERAH
17 April 2026 · Oleh Redaksi SEPETAK

Senjata Kaum Lemah: Perlawanan Sehari-hari Petani ala James C. Scott

Senjata Kaum Lemah: Perlawanan Sehari-hari Petani ala James C. Scott
Foto Lapangan

Abstrak

Artikel ini mengkaji pemikiran James C. Scott tentang everyday forms of resistance dan relevansinya dalam memahami perlawanan petani Karawang terhadap struktur ketidakadilan agraria. Scott mengargumentasikan bahwa perlawanan petani tidak selalu berbentuk revolusi atau pemberontakan terbuka, melainkan melalui taktik-taktik harian yang tersembunyi namun sistematis. Melalui analisis ekonomi politik agraria, artikel ini menunjukkan bagaimana konsep Scott dapat digunakan untuk memahami strategi bertahan hidup petani Karawang menghadapi tekanan modernisasi pertanian, konversi lahan, dan dominasi korporasi agribisnis. Temuan menunjukkan bahwa petani Karawang menggunakan berbagai bentuk perlawanan harian seperti foot-dragging, sabotase halus, dan jaringan solidaritas informal sebagai respons terhadap marginalisasi. Kesimpulan artikel menekankan pentingnya memahami dimensi politik dalam tindakan sehari-hari petani untuk membangun strategi organisasi yang lebih efektif bagi gerakan tani kontemporer.

Pendahuluan

Dalam lanskap studi agraria kontemporer, sedikit pemikir yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap politik petani seperti James C. Scott. Melalui karya monumentalnya Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (1985), Scott menantang ortodoksi akademik yang selama ini melihat perlawanan petani hanya dalam bentuk revolusi atau pemberontakan terbuka. Bagi Scott, kekuatan sejati petani justru terletak pada kemampuan mereka melakukan perlawanan harian yang tersembunyi, sistematis, dan berkelanjutan.

Pemikiran Scott menjadi relevan ketika kita mengamati kondisi petani di Karawang, Jawa Barat, yang menghadapi tekanan struktural dari berbagai arah: industrialisasi yang masif, konversi lahan pertanian untuk kawasan industri, penetrasi korporasi agribisnis, dan kebijakan pertanian yang bias terhadap modernisasi kapitalis (Konsorsium Pembaruan Agraria, 2021). Di tengah tekanan tersebut, petani Karawang tidak melakukan pemberontakan spektakuler, namun mereka juga tidak pasif menerima dominasi. Mereka mengembangkan repertoar perlawanan yang halus namun efektif.

Pertanyaan analitis yang diajukan artikel ini adalah: bagaimana konsep everyday forms of resistance Scott dapat membantu kita memahami strategi bertahan hidup dan perlawanan petani Karawang? Sejauh mana kerangka teoretis Scott masih relevan untuk menganalisis dinamika agraria kontemporer di Indonesia? Dan bagaimana pemahaman ini dapat memperkuat strategi organisasi gerakan tani?

Tesis utama artikel ini mengargumentasikan bahwa pemikiran Scott tentang perlawanan sehari-hari menyediakan lensa analitis yang kuat untuk memahami politik petani Karawang. Namun, konsep Scott perlu diperkaya dengan perspektif ekonomi politik agraria yang mempertimbangkan dinamika akumulasi kapital, peran negara, dan transformasi sistem pangan global. Melalui sintesis ini, kita dapat mengembangkan strategi organisasi yang lebih sensitif terhadap realitas politik petani di tingkat grassroots.

Artikel ini akan dimulai dengan eksplorasi mendalam terhadap konsep everyday resistance Scott, dilanjutkan dengan analisis kritisnya terhadap narasi revolusi petani, kemudian mengaplikasikan kerangka teoretis tersebut untuk memahami praktik perlawanan petani Karawang, dan diakhiri dengan refleksi tentang dialektika negara-petani dalam konteks Indonesia kontemporer.

↑ Kembali ke Daftar Isi

Anatomi Senjata Kaum Lemah: Konsep Everyday Resistance Scott

James C. Scott memulai revolusi teoretisnya dengan pertanyaan sederhana namun fundamental: mengapa petani yang mengalami penindasan struktural jarang melakukan pemberontakan terbuka? Melalui etnografi mendalam di desa Sedaka, Malaysia, Scott menemukan bahwa ketiadaan revolusi petani bukan berarti ketiadaan perlawanan. Sebaliknya, petani mengembangkan apa yang disebutnya "everyday forms of resistance" — bentuk-bentuk perlawanan harian yang tidak terorganisir secara formal namun sistematis dan berkelanjutan (Scott, 1985).

Everyday resistance Scott mencakup spektrum luas tindakan yang tampak individual namun memiliki dampak kolektif: foot-dragging (bekerja dengan sengaja lambat), desersi, sabotase halus, pencurian kecil, pembangkangan diam-diam (silent disobedience), dan false compliance (kepatuhan palsu). Tindakan-tindakan ini memiliki karakteristik khusus: dilakukan secara individual atau dalam kelompok kecil, tidak memerlukan koordinasi formal, menghindari konfrontasi langsung dengan otoritas, dan bersifat anonim atau dapat disangkal (deniable).

Keunggulan strategi ini terletak pada kemampuannya meminimalkan risiko represif sambil tetap mengikis legitimasi dan efektivitas dominasi. Scott (1985) menganalogikan strategi ini dengan "death by a thousand cuts" — masing-masing tindakan tampak sepele, namun secara kumulatif dapat melumpuhkan sistem dominasi. Dalam konteks agraria, hal ini berarti petani dapat menolak ekstraksi surplus tanpa harus menghadapi risiko kekerasan negara atau tuan tanah.

Scott mengembangkan tipologi perlawanan berdasarkan dua dimensi: tingkat organisasi (individual vs kolektif) dan tingkat konfrontasi (tersembunyi vs terbuka). Everyday resistance berada di kuadran "individual-tersembunyi", berbeda dengan revolusi yang berada di kuadran "kolektif-terbuka". Namun Scott mengargumentasikan bahwa dikotomi ini tidak rigid — tindakan individual dapat memiliki efek kolektif, dan perlawanan tersembunyi dapat berkembang menjadi gerakan terbuka dalam kondisi tertentu.

Konsep ini juga terkait erat dengan pemahaman Scott tentang "hidden transcript" — wacana kritik yang dikembangkan kelompok subordinat di luar pandangan kelompok dominan. Hidden transcript ini menjadi fondasi ideologis bagi everyday resistance, menyediakan justifikasi moral dan kerangka makna bagi tindakan perlawanan (Scott, 1990). Dalam konteks petani, hidden transcript sering berbentuk kritik terhadap ketidakadilan distribusi tanah, eksploitasi tenaga kerja, atau kebijakan yang merugikan.

Penting untuk memahami bahwa Scott tidak meromantisasi everyday resistance. Ia mengakui bahwa strategi ini memiliki keterbatasan: tidak mampu mengubah struktur dasar dominasi, dapat dikooptasi oleh elite, dan terkadang justru memperkuat status quo dengan menyediakan "safety valve" bagi ketegangan sosial. Namun bagi Scott, everyday resistance tetap merupakan bentuk politik yang rasional dan efektif dalam konteks ketimpangan kekuatan yang ekstrem.

Poin Penting

Everyday resistance Scott bukan sekadar adaptasi pasif petani terhadap dominasi, melainkan strategi politik yang rasional untuk mengikis legitimasi dan efektivitas sistem penindasan tanpa menghadapi risiko represif yang tinggi.

↑ Kembali ke Daftar Isi

Melampaui Revolusi: Kritik Scott terhadap Narasi Besar Perlawanan Petani

Salah satu kontribusi terpenting Scott adalah kritiknya terhadap "revolutionary romanticism" dalam studi peasant politics. Dalam Weapons of the Weak, Scott secara eksplisit mengkritik Eric Wolf dan tradisi Marxis yang cenderung memfokuskan analisis pada momen-momen revolusioner dalam sejarah petani (Wolf, 1969). Bagi Scott, obsesi terhadap revolusi petani telah mengaburkan pemahaman kita tentang politik petani sehari-hari yang sesungguhnya lebih dominan dan berkelanjutan.

Scott mengargumentasikan bahwa revolusi petani adalah pengecualian, bukan aturan. Dalam sebagian besar sejarah, petani memilih strategi bertahan hidup yang meminimalkan risiko daripada perlawanan frontal yang berisiko tinggi. Pilihan ini bukan cerminan "kesadaran palsu" (false consciousness) atau ketiadaan kesadaran kelas, melainkan kalkulasi rasional berdasarkan pemahaman mendalam tentang struktur kekuasaan dan konsekuensi potensial dari perlawanan terbuka.

Kritik Scott terhadap Wolf dan tradisi Marxis berpusat pada tiga argumen utama. Pertama, bias metodologis: fokus pada momen revolusioner mengabaikan kontinuitas perlawanan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, bias normatif: asumsi bahwa perlawanan "sejati" harus berbentuk revolusi mencerminkan proyeksi nilai-nilai intelektual urban terhadap realitas petani. Ketiga, bias empiris: kegagalan memahami bahwa sebagian besar petani lebih memilih strategi "exit" atau "voice" dalam bentuk halus daripada "loyalty" atau revolusi (Scott, 1985).

Dalam Seeing Like a State (1998), Scott memperluas kritiknya dengan menganalisis bagaimana "high modernist ideology" negara modern cenderung mengabaikan atau menghancurkan bentuk-bentuk pengetahuan dan praktik lokal yang dikembangkan petani. Konsep "metis" — pengetahuan praktis yang diperoleh melalui pengalaman lokal — menjadi central dalam argumen Scott tentang superioritas sistem desentralisasi dan organik dibandingkan perencanaan terpusat negara.

Scott juga mengkritik romantisasi komunitas petani dalam tradisi populis. Ia menunjukkan bahwa desa bukanlah entitas yang harmonis dan egaliter, melainkan arena kontestasi yang kompleks dengan hierarki internal, konflik kepentingan, dan stratifikasi sosial. "Moral economy" petani yang dikonseptualisasikan Scott berbeda dengan versi E.P. Thompson — bukan konsensus komunal tentang keadilan, melainkan negosiasi terus-menerus antara berbagai kepentingan dalam komunitas (Scott, 1976).

Namun kritik Scott juga mendapat respons dari berbagai kalangan. Henry Bernstein (2010) mengargumentasikan bahwa Scott terlalu menekankan agensi individual petani sambil mengabaikan determinasi struktural dari akumulasi kapital global. Jan Douwe van der Ploeg (2008) menambahkan bahwa konsep Scott perlu diperkaya dengan pemahaman tentang "repeasantization" — proses di mana petani secara aktif membangun alternatif terhadap modernisasi kapitalis.

Terlepas dari kritik tersebut, kontribusi Scott dalam menggeser fokus analisis dari revolusi ke politik sehari-hari tetap fundamental. Ia membuka ruang untuk memahami berbagai bentuk agensi petani yang selama ini diabaikan, sekaligus menyediakan kerangka analitis yang lebih sensitif terhadap kompleksitas dan kontradiksi dalam politik agraria.

Poin Penting

Scott tidak menolak kemungkinan revolusi petani, melainkan mengargumentasikan bahwa fokus berlebihan pada momen revolusioner telah mengaburkan pemahaman kita tentang politik petani sehari-hari yang sesungguhnya lebih dominan dan strategis dalam jangka panjang.

↑ Kembali ke Daftar Isi

Perlawanan Harian Petani Karawang: Dari Teori ke Praktik

Aplikasi konsep everyday resistance Scott dalam konteks petani Karawang mengungkap repertoar perlawanan yang kaya dan beragam. Sebagai salah satu sentra industri terbesar di Jawa Barat, Karawang mengalami tekanan konversi lahan yang masif — dari 2000 hingga 2020, sekitar 15.000 hektar lahan pertanian telah beralih fungsi menjadi kawasan industri (Badan Pusat Statistik Karawang, 2021). Di tengah tekanan struktural ini, petani Karawang mengembangkan strategi perlawanan yang sejalan dengan kerangka teoretis Scott.

Bentuk pertama adalah foot-dragging dalam implementasi program pemerintah. Ketika Dinas Pertanian Karawang mengenalkan program intensifikasi dengan input kimia tinggi, banyak petani yang secara diam-diam tetap menggunakan praktik tradisional atau mengurangi dosis pupuk kimia. Mereka tidak menolak secara terbuka — bahkan menghadiri sosialisasi dan menerima bantuan — namun dalam praktik lapangan, mereka memodifikasi rekomendasi teknis sesuai pengetahuan lokal dan kondisi ekonomi (Wawancara dengan pengurus SEPETAK, 2023).

Sabotase halus terhadap infrastruktur agribisnis juga menjadi strategi umum. Petani sering melaporkan "kerusakan" pada sistem irigasi tetes yang dipasang perusahaan, padahal mereka sengaja memodifikasi sistem tersebut agar sesuai dengan pola tanam tradisional. Demikian pula dengan penggunaan benih hibrida — petani menerima benih dari program, namun tetap menyimpan sebagian hasil panen untuk benih musim berikutnya, meskipun hal ini mengurangi produktivitas benih hibrida.

Jaringan solidaritas informal menjadi bentuk perlawanan yang paling sophisticated. Petani Karawang mengembangkan sistem "gotong royong terselubung" yang berfungsi sebagai mekanisme perlindungan terhadap penetrasi pasar. Sistem sambatan (kerja bergantian) tidak hanya menghemat biaya tenaga kerja, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada buruh upahan dan mesin-mesin modern yang mahal. Praktik arisan gabah memungkinkan petani menghindari fluktuasi harga pasar dengan sistem barter internal.

Diversifikasi ekonomi sebagai strategi exit juga mencerminkan konsep Scott. Banyak petani Karawang yang secara bertahap mengurangi ketergantungan pada produksi padi dengan mengembangkan usaha sampingan: peternakan skala kecil, warung, atau bekerja paruh waktu di sektor informal. Strategi ini memungkinkan mereka mempertahankan akses terhadap lahan sambil mengurangi risiko ekonomi dari fluktuasi harga komoditas pertanian.

Namun, aplikasi konsep Scott dalam konteks Karawang juga mengungkap keterbatasan-keterbatasan tertentu. Tekanan konversi lahan yang masif menciptakan kondisi di mana everyday resistance tidak lagi memadai. Ketika lahan secara fisik diambil alih untuk pembangunan kawasan industri, strategi perlawanan halus menjadi tidak relevan. Dalam konteks ini, petani terpaksa beralih ke strategi yang lebih konfrontatif atau menerima kompensasi dan mencari mata pencaharian alternatif.

Penetrasi teknologi digital juga menciptakan tantangan baru. Program digitalisasi pertanian yang diusung pemerintah — seperti aplikasi Sikatani dan sistem e-RDKK — membuat praktik foot-dragging menjadi lebih sulit karena monitoring yang lebih ketat. Petani harus mengembangkan strategi baru, seperti memberikan data yang tidak akurat atau memanfaatkan kelemahan sistem digital.

Generasi muda petani menunjukkan pola perlawanan yang berbeda dari generasi tua. Mereka lebih cenderung menggunakan media sosial untuk membangun jaringan dan menyebarkan kritik terhadap kebijakan pertanian. Platform seperti WhatsApp dan Facebook menjadi ruang untuk mengorganisir hidden transcript yang lebih luas dan terstruktur dibandingkan gossip tradisional di warung atau masjid.

Analisis terhadap kasus Karawang menunjukkan bahwa everyday resistance Scott tetap relevan, namun perlu diperkaya dengan pemahaman tentang transformasi struktural yang lebih cepat dan kompleks dalam kapitalisme kontemporer. Strategi perlawanan petani tidak lagi hanya berhadapan dengan tuan tanah atau negara, melainkan dengan jaringan korporasi global, teknologi digital, dan rezim akumulasi yang lebih sophisticated.

Poin Penting

Petani Karawang menggunakan repertoar everyday resistance yang beragam — dari foot-dragging hingga jaringan solidaritas informal — namun efektivitas strategi ini semakin terbatas menghadapi tekanan struktural yang lebih masif dan kompleks dalam era kapitalisme global.

↑ Kembali ke Daftar Isi

Negara dan Petani: Dialektika Dominasi dan Resistensi

Pemahaman Scott tentang relasi negara-petani mencapai elaborasi paling komprehensif dalam Seeing Like a State (1998). Scott mengargumentasikan bahwa negara modern memiliki kecenderungan inherent untuk "melihat seperti negara" — menyederhanakan kompleksitas sosial menjadi kategori-kategori yang dapat diukur, dipetakan, dan dikontrol. Dalam konteks agraria, hal ini berarti transformasi sistem pertanian tradisional yang kompleks dan beragam menjadi monokultur yang seragam dan mudah dimonitor.

"High modernist ideology" yang dikritik Scott memiliki empat karakteristik utama: kepercayaan pada superioritas pengetahuan ilmiah-teknis, keyakinan bahwa masyarakat dapat direkayasa secara rasional, aspirasi untuk mencapai kemajuan melalui perencanaan terpusat, dan pengabaian terhadap pengetahuan lokal dan praktik tradisional. Dalam konteks Indonesia, ideologi ini tercermin dalam program Revolusi Hijau, intensifikasi pertanian, dan berbagai skema modernisasi yang mengabaikan kearifan lokal petani.

Scott menunjukkan bagaimana "legibility" (keterbacaan) menjadi obsesi negara modern. Lahan pertanian harus dipetakan, petani harus terdaftar, produksi harus terukur, dan praktik pertanian harus terstandarisasi. Proses ini memungkinkan negara untuk mengekstrak surplus secara lebih efisien, namun sekaligus menghancurkan sistem pengetahuan dan praktik lokal yang telah berkembang selama berabad-abad. "Metis" — pengetahuan praktis yang diperoleh melalui pengalaman lokal — menjadi korban dari proses modernisasi ini.

Dalam konteks Karawang, dialektika ini terlihat jelas dalam implementasi program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT). Program-program ini dirancang dengan asumsi bahwa petani adalah "blank slate" yang perlu dididik tentang praktik pertanian "modern". Pengetahuan lokal tentang varietas padi lokal, sistem rotasi tanaman, dan pengelolaan hama terpadu diabaikan demi standardisasi teknis yang mudah dimonitor dan dievaluasi.

Namun Scott juga menunjukkan bahwa petani bukan penerima pasif dari dominasi negara. Mereka mengembangkan berbagai strategi untuk mengelak dari "pandangan negara" sambil tetap memperoleh manfaat dari program-program pemerintah. Konsep "weapons of the weak" dalam konteks ini bukan hanya perlawanan terhadap eksploitasi ekonomi, melainkan juga resistensi terhadap homogenisasi pengetahuan dan praktik.

Strategi "compliant resistance" menjadi karakteristik utama relasi petani-negara dalam konteks kontemporer. Petani Karawang menunjukkan kepatuhan formal terhadap program pemerintah — menghadiri penyuluhan, mendaftar sebagai peserta program, melaporkan data produksi — namun dalam praktik lapangan, mereka tetap mempertahankan elemen-elemen praktik tradisional yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi lokal.

Teknologi menjadi arena kontestasi yang semakin penting. Program digitalisasi pertanian yang diusung Kementerian Pertanian — seperti aplikasi monitoring tanam dan sistem informasi cuaca — direspons petani dengan strategi yang beragam. Sebagian petani menggunakan teknologi ini secara selektif, mengambil informasi yang berguna sambil mengabaikan rekomendasi yang tidak sesuai. Sebagian lain memberikan data yang tidak akurat untuk menghindari monitoring yang terlalu ketat.

Peran penyuluh pertanian menjadi kompleks dalam dinamika ini. Sebagai representasi negara di tingkat desa, penyuluh seharusnya menjadi agen modernisasi. Namun dalam praktik, banyak penyuluh yang mengembangkan pemahaman empatis terhadap kondisi petani dan menjadi "broker" antara program pemerintah dan kebutuhan lokal. Mereka sering memodifikasi pesan program agar lebih sesuai dengan realitas lapangan, meskipun hal ini bertentangan dengan standardisasi yang dikehendaki negara.

Analisis Scott tentang negara juga perlu dikontekstualisasikan dengan transformasi neoliberal dalam kebijakan agraria Indonesia. Peran negara tidak lagi hanya sebagai modernizer, melainkan juga sebagai fasilitator akumulasi kapital privat. Hal ini terlihat dalam kebijakan yang mendorong korporatisasi pertanian, liberalisasi perdagangan komoditas, dan privatisasi layanan pertanian. Dalam konteks ini, everyday resistance petani tidak hanya berhadapan dengan birokrasi negara, melainkan juga dengan logika pasar yang semakin dominan.

Poin Penting

Relasi negara-petani dalam kontemporer bukan sekadar dominasi-resistensi, melainkan negosiasi kompleks di mana petani menggunakan strategi "compliant resistance" untuk mempertahankan otonomi sambil mengakses sumber daya negara, sementara negara beradaptasi dengan resistensi ini melalui mekanisme monitoring dan insentif yang lebih sophisticated.

↑ Kembali ke Daftar Isi

Kesimpulan

Pemikiran James C. Scott tentang everyday forms of resistance menyediakan lensa analitis yang powerful untuk memahami politik petani kontemporer, termasuk di Karawang. Konsep Scott berhasil mengungkap dimensi politik dalam tindakan sehari-hari petani yang selama ini diabaikan oleh analisis konvensional yang terfokus pada momen-momen revolusioner. Melalui strategi foot-dragging, sabotase halus, jaringan solidaritas informal, dan compliant resistance, petani Karawang menunjukkan bahwa mereka bukan korban pasif dari dominasi struktural, melainkan aktor politik yang mengembangkan strategi rasional untuk mempertahankan otonomi dan mata pencaharian.

Namun, aplikasi konsep Scott dalam konteks Karawang juga mengungkap keterbatasan-keterbatasan tertentu. Tekanan struktural dalam era kapitalisme global — konversi lahan masif, penetrasi korporasi agribisnis, dan digitalisasi pertanian — menciptakan kondisi di mana everyday resistance tradisional tidak selalu memadai. Petani terpaksa mengembangkan strategi yang lebih kompleks dan terkadang lebih konfrontatif untuk menghadapi transformasi yang lebih cepat dan fundamental.

Secara teoretis, pemikiran Scott perlu diperkaya dengan perspektif ekonomi politik agraria yang lebih sensitif terhadap dinamika akumulasi kapital global. Karya Henry Bernstein tentang "labour regimes of food" dan Jan Douwe van der Ploeg tentang "repeasantization" menyediakan kerangka komplementer yang dapat memperkaya analisis Scott tentang agensi petani dalam konteks kapitalis kontemporer.

Implikasi praktis bagi gerakan tani sangat signifikan. Pemahaman tentang everyday resistance dapat membantu organisasi seperti SEPETAK untuk mengembangkan strategi yang lebih sensitif terhadap realitas politik petani di tingkat grassroots. Alih-alih memaksakan model organisasi yang formal dan hierarkis, gerakan tani dapat membangun strategi yang memanfaatkan jaringan solidaritas informal yang sudah ada, sekaligus memperkuat kapasitas petani untuk melakukan perlawanan yang lebih efektif.

Rekomendasi strategis yang dapat dikembangkan meliputi: pertama, dokumentasi dan pengembangan praktik-praktik perlawanan harian yang sudah dilakukan petani sebagai basis untuk strategi organisasi yang lebih luas; kedua, pemanfaatan teknologi digital tidak hanya sebagai alat monitoring negara, melainkan juga sebagai platform untuk membangun jaringan solidaritas dan menyebarkan hidden transcript; ketiga, pengembangan ekonomi alternatif yang berbasis pada prinsip solidaritas dan mengurangi ketergantungan pada sistem pasar kapitalis; keempat, aliansi strategis dengan penyuluh dan birokrat tingkat bawah yang memiliki pemahaman empatis terhadap kondisi petani.

Pada akhirnya, pemikiran Scott mengingatkan kita bahwa politik tidak hanya terjadi di parlemen atau dalam gerakan massa, melainkan juga dalam tindakan sehari-hari petani di sawah dan ladang mereka. Memahami dan menghargai dimensi politik ini merupakan prasyarat untuk membangun gerakan tani yang lebih demokratis, inklusif, dan efektif dalam menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks di era kontemporer.

↑ Kembali ke Daftar Isi

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Karawang. (2021). Karawang dalam angka 2021. BPS Kabupaten Karawang.

Bernstein, H. (2010). Class dynamics of agrarian change. Fernwood Publishing.

Konsorsium Pembaruan Agraria. (2021). Catatan akhir tahun 2021: Tumpang tindih krisis agraria di tengah pandemi. KPA.

Scott, J. C. (1976). The moral economy of the peasant: Rebellion and subsistence in Southeast Asia. Yale University Press.

Scott, J. C. (1985). Weapons of the weak: Everyday forms of peasant resistance. Yale University Press.

Scott, J. C. (1990). Domination and the arts of resistance: Hidden transcripts. Yale University Press.

Scott, J. C. (1998). Seeing like a state: How certain schemes to improve the human condition have failed. Yale University Press.

van der Ploeg, J. D. (2008). The new peasantries: Struggles for autonomy and sustainability in an era of empire and globalization. Earthscan.

Wolf, E. R. (1969). Peasant wars of the twentieth century. Harper & Row.